Aku telusuri langkah senja yang memerah, mengintip sang dewi
dalam cahaya, menatap lipatan kabut yang membuana seakan jadi pelopor
untuk segera memanggil sang dewi tidur.
Kini keangkuhan siang
mulai patah digantikan kedamaian malam. Cahaya energy yang memancarkan
sinar diubah menjadi cahaya listrik disetiap penghuni alam.
Ya inilah Sepi yang memakan siang dan bertaburan bintang segera melumpuhkan gemerlap rupiah yang tersebar
“Malam sobat”
Ia
rangkul aku dengan sepenuh rasa sayang. Tangan menyergap tubuh diantara
langit dan bumi cukup membuat jantung terdetak terpaku. Kami menikmati
alam yang indah dengan taburan sang pecinta malam.
“Aku sayang kamu”
Posisi
tubuhnya seketika berputar 90 derajat menghadap raga ku yang kaku. Ia
hanya terdiam. Kini gerak tangannya seakan menjelma, bersuara tanpa
pamrih, meraung dan segera merucut pada tanganku. Ia memegang tangan ku
tanpa ragu dan menaruhnya pada dada yang kian lama kurasa detak
jantungnya.
“Apa yang kau lakakukan ?”
Tiba
saatnya untuk ku berdelik tentang apa yang ia perbuat. Aku merasakan
getaran yang berbeda, pandangan matanya menembus kornea tanpa ada batas
penghalang bahwa aku dan ia bukanlah seorang mukhrim.
“Apakah kau belum mengerti tentang apa yang berdetak dalam tubuhku”
Pandangannya
semakin liar terhadap mataku. Saat aku terjatuh pada hati yang berongga
kurasakan rayapan lembut dekat telingaku. Namun aku terdiam tubuhku
kini semakin erat ia genggam. Aku masih saja terpaku oleh endapan pada
bola matanya.
“Aku sayang kamu sebagai cintaku bukan
sebatas sahabat. Pantaskah aku tuk memujamu sebagai kasihku ? Izinkanlah
aku. Izinkan aku terus seperti ini merasakan kehangatan angin malam
bersama mu”
Kata kata itu semakin menyadarkanku bahwa
seorang sahabat tak pantas merayapi tubuhku seliar ini. Aku kini mencoba
menghindar walaupun aku bahagia dalam dekapannya. Ku tempelkan jari
jari manisku pada jantungnya yang dibalut rongga dan diselimuti daging
yang menempel pada kulit. Ku lawan sedikit tenaganya dan aku pun
terlepas dari tubuhnya yang melemas
“Aku pun sayang kamu”
Terlihat pancaran matahari di kedua bola matanya. Ia tersenyum haru namun dalam benaknya kurasa penuh tanda tanya.
“Sobat aku sayang hanya sebatas aku dan kamu adalah sahabat sejati. Tidak lebih”
Kulihat
mata yang kian mendung, menahan gejolak air yang siap ditumpahkan.
Dalam hati ku dendangkan syair lagu sendu. Kau belumlah mengerti apa
yang ku katakan tadi. Walau rasa sakit menyergap keseluruh jiwa, walau
air mata mengalir dalam duka.
Kini tangan ku yang tak lagi bisu
menyergap kilat menyentuh telapak tangannya lalu kusentuhkan agar ia tau
bahwa kini alas bumi yang jadi pijakan seolah bergetar.
“Detik
ini kau takkan mengerti apa yang aku rasakan. Kau takkan paham catatan
putih yang ada direlungku. Tapi kini kau harus yakin bahwa rongga dalam
hatiku telah terisi benih indah yang tak perlu kau tau siapa pemiliknya.
Dan suatu ketika lah kau mengerti akan hal itu. Aku tak pernah mau
melihatmu menagis karena ku”
“Baiklah kawan, namun aku kan
tetap menjaga setiap nada cinta yang mengalun dalam keegoisan hati ini.
Dan bila benih yang menusuk dalam rongga hatimu itu milikku, lalu akan
tetap kutancap seperti panah yang menghujam. Namun bila benih itu
bukanlah milikku, akan tetap ku tunggu sampai ia merapuh.”
Kulihat
awan hitam dalam matanya, namun ia tak sudi tuk tumpahkan setitik air
dari kelopaknya. Maafkan aku sobat yang telah berikan satu biasan hitam
dalam cintamu.
*****
Bulan yang
indah, kirimkan kata sayang ku padanya bahwa aku kini kecewa telah
berdusta kata padanya. Bintang yang bersinar sampaikan padanya kini aku
menangis meratapi keadaan cinta. Malam yang sunyi berikanlah ketenangan
pada anganku agar aku tetap berdiri kokoh diatas kesakitan hatiku. Ya
inilah. Inilah rasanya
Detik yang terus berlari,
meninggalkan masa yang telah lalu. Jaman yang berevolusi membuat
metamorfosa hati ku semakin besar. Ya hati ku yang semakin membengkak
bukan karena benih cinta dalam rongga. Namun inilah jawaban atas apa
pertanyaan dalam dirinya. Pembengkakan hati yang terus menggerogoti akal
ku.
Inilah jawaban kenapa aku tak mau menerima cintanya. Aku tak
pernah mau melihat air matanya yang bergulir dikhususkan karena
penyakitku.
Dan kini tiba saatnya aku terbujur lemah,
mungkin malaikat pencabut nyawa telah ada dihadapanku dan siap
melaksanakan tugasnya. Dalam tutupnya mataku, kudengar lantunan doa yang
menghiasi dinding kamar. Indah, damai, tentram hatiku. Pembengkakan
hati yang telah semakin membengkak membuatku harus bertekuk lutut pada
apa yang telah ditakdirkan.
Tiba tiba ku melihat ayah dan
bunda berdiri lalu menangis sejadinya. Kenapa mereka, menitikan air mata
diatas badanku. Menggoyangkan sekujur tubuhku tapi aku hanya bisa diam.
Tubuhku kaku, dingin dan aku pun sulit tuk menggerakannya. Sampai
akhirnya kain putih memburamkan penglihatanku.
Inalilahi Waina Lilahi Rojiun
Kini aku telah tiada
Dalam
prosesi pemakaman ku, dirinya hadir ditengah tengah tangis. Aku tak
sanggup mengusap air matanya karena jiwaku tak lagi satu dengan raga.
Dirinya terpaku pada tempat yang jadi peristirahatanku. Kini aku telah
terbalut tanah basah yang dihiasi percikan bunga.
Diatas
sini aku melihat ayah memberikan sepucuk surat yang pernah kutulis untuk
dirinya. Dan ia pun membaca kata demi kata yang terus memperuntukan air
mata.
Saat itu kita temui persimpangan yang mengalirkan air mata bagai sungai tak bertepi
ku terdiam dalam ranting pohon yang pernah menjadi saksi bisu kebersamaan kita.
Kau
rupanya memilih satu jalur berbeda dari apa yang menjadi prinsipku.
Kita berpisah pada persimpangan itu. Namun kekuatan cinta merealisasikan
keadaan kita. Hingga kita bertemu disuatu titik.
Sahabat,
apakah kau telah mengerti kini apa yang menjadi kendala dalam hati ku ?
Sudah paham kah kau benih apa yang memadati rongga hatiku ? Ya inilah
jawabnya. Kini kau temui ku terbujur kaku dalam perut bumi.
Sahabat,
dalam hati ini kaulah penghuninya. Dalam sakit ini kaulah obatnya.
Namun sahabat tetaplah sahabat. Kau tak pernah jadi pemuja jiwaku karena
ku tau bila saatnya nanti kau akan terkejut melihat kenyataan ini.
Pesan
terakhirku bila kau temukan cinta sejatimu nanti jagalah dia,
mengertilah dia, dan cintailah kekurangannya. Jangan biarkan ia terlepas
dari genggaman tangan mu hingga ia terjatuh, karena bila ia pergi nanti
air matamu tak pernah sanggup membuatnya kembali.
Aku
ingin seperti seorang bayi yang menangis saat ia lahir kedunia namun
banyak yang tersenyum karenanya. Dan aku pun berharap aku meninggalkan
dunia dengan banyak tangisan tapi aku tersenyum bahagia. I Love You so
Much. Maafkan aku telah menyembunyikan semua ini. Yang aku mau adalah
kau tersenyum dihadapan nisanku.
Dewi
Dan aku siap terbang menembus langit ketujuh,
meninggalkan ayah dan bunda serta dirinya. Kan kutunggu mereka disurga.
Karena malaikat kecil membawaku terbang bersama ke alam yang lebih
indah.
sumber : rizkyaprilianipratama.blogspot.com